20th
February 2017
Kembali, seorang sahabat mengingatkan
saya akan impian saya sewaktu saya 13 atau 14 tahun. Saya ingin menjadi
penulis, penulis novel, pembuat komik, apapun itu yang berhubungan dengan
jurnalistik. Saya sadar, keputusan saya memilih aksel mengubah segala
kesempatan saya. Saya tidak bisa banyak bermain, tidak bisa mendewasakan diri
sebelum menempuh bangku kuliah, masih sedikit memiliki pengalaman namun
dituntut untuk terus maju, untuk terus melanjutkan perjuangan studi strata 1
saya.
Hingga saya melupakan cita-cita saya
bersama sahabat saya umu nasibah, untuk membuat novel berjudul serendipity of
crushes. Cerita cinta bayangan anak usia 13 tahun, dengan segala khayalan
tentang kehidupan SMA yang kami berdua bayangkan. Saya merindukan masa itu,
dimana tiap hari kami bermimpi, saya dan ketiga sahabat saya, ibah, nurma,
yomira, untuk menjadi seseorang yang kami inginkan. Saya ingin menjadi penulis,
nurma ingin menjadi dokter, yomira yang menyukai segala musik korea, ibah yang
ingin menjadi penulis novel.
Ah, mana mungkin saya melupakan masa
itu. Masa ketika persahabatan membuat kami bersemangat sekolah, bersemangat
untuk menjalani keseharian yang sibuk dalam program bilingual, yang setiap hari
kami berangkat pukul 6 dan pulang pukul 3 sore. Masa-masa berjuang yang manis
dan berkesan.
Lagu Don’t Stop Believing yang kami
dengarkan setiap istirahat, atau musik indie milik teman-teman saya yang kadang
terlalu keras hingga guru harus menegur kami agar tidak terlalu keras
mendengarkan musik. Atau sewaktu saya dan sahabat saya menyanyi dilantai 2
karena suasananya sangat menyenangkan dan menyejukkan diatap sekolah.
Saya menyanyangi kalian semua, namun
memang jalan yang kita tempuh digariskan berbeda. Saya sekarang sudah ditahun
ketiga kuliah, dan sebentar lagi mengambil skripsi, sedangkan kalian memasuki
tahun kedua. Saya selalu ingin bertemu, menyampaikan cerita saya, menyampaikan
saya merindukan kalian, dan kadang saya sedih mengambil jalan ini lebih cepat
dan meninggalkan kalian.
InsyaAllah, saya berusaha mulai
sekarang, saya tetap mewujudkan impian saya menjadi penulis. Saya juga ingin
mewujudkan impian baru saya menjadi sarjana kimia fisika, dan InsyaAllah
menjadi master, hingga menjadi professor. Memang cia-cita yang gila, namun
semenjak saya masuk sekolah menengah pertama, mimpi-mimpi itu sudah saya
cita-citakan. “Saya ingin menjadi ilmuwan, guru, penulis, pelukis, musisi,” dan
jutaan cita-cita saya. Ada orang yang berkata, di dunia ini tidak ada mimpi yang
bodoh, karena mimpi dapat terwujud dengan ikhtiar dan do’a. Bukankah Allah SWT
juga berfirman, “Dan tidaklah diubah nasib suatu kaum, hingga mereka
mengubahnya nasibnya sendiri.” Firman Allah SWT inilah yang membuat saya
percaya, saya mampu masuk bilingual, saya mampu masuk akselerasi, masuk
fakultas MIPA tanpa tes, dan InsyaAllah membuat saya yakin untuk memilih kimia
fisika sebagai spesifikasi ilmu kimia saya dan lulus dengan memuaskan. Saya
ingin mempercayai kata hati saya, dan dengan bismillah, dengan yakin mengambil
kesempatan ini. karena saya percaya Allah telah menggariskan takdir-Nya,
menggariskan jalan yang terbaik untuk saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar