Selasa, 27 Maret 2018

short story #2


20th February 2017
         Kembali, seorang sahabat mengingatkan saya akan impian saya sewaktu saya 13 atau 14 tahun. Saya ingin menjadi penulis, penulis novel, pembuat komik, apapun itu yang berhubungan dengan jurnalistik. Saya sadar, keputusan saya memilih aksel mengubah segala kesempatan saya. Saya tidak bisa banyak bermain, tidak bisa mendewasakan diri sebelum menempuh bangku kuliah, masih sedikit memiliki pengalaman namun dituntut untuk terus maju, untuk terus melanjutkan perjuangan studi strata 1 saya.
         Hingga saya melupakan cita-cita saya bersama sahabat saya umu nasibah, untuk membuat novel berjudul serendipity of crushes. Cerita cinta bayangan anak usia 13 tahun, dengan segala khayalan tentang kehidupan SMA yang kami berdua bayangkan. Saya merindukan masa itu, dimana tiap hari kami bermimpi, saya dan ketiga sahabat saya, ibah, nurma, yomira, untuk menjadi seseorang yang kami inginkan. Saya ingin menjadi penulis, nurma ingin menjadi dokter, yomira yang menyukai segala musik korea, ibah yang ingin menjadi penulis novel.
         Ah, mana mungkin saya melupakan masa itu. Masa ketika persahabatan membuat kami bersemangat sekolah, bersemangat untuk menjalani keseharian yang sibuk dalam program bilingual, yang setiap hari kami berangkat pukul 6 dan pulang pukul 3 sore. Masa-masa berjuang yang manis dan berkesan.
         Lagu Don’t Stop Believing yang kami dengarkan setiap istirahat, atau musik indie milik teman-teman saya yang kadang terlalu keras hingga guru harus menegur kami agar tidak terlalu keras mendengarkan musik. Atau sewaktu saya dan sahabat saya menyanyi dilantai 2 karena suasananya sangat menyenangkan dan menyejukkan diatap sekolah.
         Saya menyanyangi kalian semua, namun memang jalan yang kita tempuh digariskan berbeda. Saya sekarang sudah ditahun ketiga kuliah, dan sebentar lagi mengambil skripsi, sedangkan kalian memasuki tahun kedua. Saya selalu ingin bertemu, menyampaikan cerita saya, menyampaikan saya merindukan kalian, dan kadang saya sedih mengambil jalan ini lebih cepat dan meninggalkan kalian.
         InsyaAllah, saya berusaha mulai sekarang, saya tetap mewujudkan impian saya menjadi penulis. Saya juga ingin mewujudkan impian baru saya menjadi sarjana kimia fisika, dan InsyaAllah menjadi master, hingga menjadi professor. Memang cia-cita yang gila, namun semenjak saya masuk sekolah menengah pertama, mimpi-mimpi itu sudah saya cita-citakan. “Saya ingin menjadi ilmuwan, guru, penulis, pelukis, musisi,” dan jutaan cita-cita saya. Ada orang yang berkata, di dunia ini tidak ada mimpi yang bodoh, karena mimpi dapat terwujud dengan ikhtiar dan do’a. Bukankah Allah SWT juga berfirman, “Dan tidaklah diubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya nasibnya sendiri.” Firman Allah SWT inilah yang membuat saya percaya, saya mampu masuk bilingual, saya mampu masuk akselerasi, masuk fakultas MIPA tanpa tes, dan InsyaAllah membuat saya yakin untuk memilih kimia fisika sebagai spesifikasi ilmu kimia saya dan lulus dengan memuaskan. Saya ingin mempercayai kata hati saya, dan dengan bismillah, dengan yakin mengambil kesempatan ini. karena saya percaya Allah telah menggariskan takdir-Nya, menggariskan jalan yang terbaik untuk saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bye October

Friday, 31 October 2025.. Morning greets with a warm, bright light Damn I miss you.. when I hear that song again.. Don't wanna remember ...