Jumat, 27 Juli 2018

short story


NB : lebih cocok dibaca dengan diiringi lagu Adhitia Sofyan dan Fiersa Besari.
Di bawah selimut langit jakarta, 17 desember 2016
Oleh : Septia Kurniawati Arifah
Jarak
Ribuan mil jauhnya
Antara kau dan ragaku
Tapi slalu kurasa dekat
Mana kala kulihat perangko pertanda dirimu
            Bunga snowdrop
            Pohon-pohon sycamore
            Indahnya salju
            Semua kau lukiskan untukku
Tapi kau tak kembali
Dan rindu merusak hati ini
Akankah kulihat lagi ,akankah kulihat lagi?
Akankah kita bertemu kembali ?
            Kau buatku tersiksa-lara
            Setiap hari mengharapmu
            Berharap kau bawakan salju
            Dipanas musim kemarau untukku
Janganlah selalu mewarnai hariku
Dengan senyuman yang tak dapat kulihat
Jangan pula bernyanyi untukku
Dengan suaramu yang tak dapat kudengar
Lantunan irama musik dari adhitia sofyan yang terdengar merdu seakan membawaku ke dalam angan dari sepenggal kisah hidup seorang yang telah merasakan kesakitan dari sebuah kerinduan.
Udara dingin malam di kota Jakarta saat itu begitu menusuk dan sekaan menambahkan kesakitan yang ku alami dari sebuah kerinduaan pada kekasih hati yang selalu kuharapkan kehadirannya disisiku dan sekedar membawakan sebuah jaket ataupun memeluk tubuh yang lemah ini. Dalam malam yang ditemani lagu syahdu, kuberkata pada diri ini, “bagaimana ya kabar doi, lagi ngapainya?” gumamku pada diri sendiri. Pernah kudengar sebuah kata-kata manis terakhir kali kuberbincang dengan kekasihku,
hei kamu, coba lihat langit Jakarta kali ini, indah bukan?” kata doi.
hahaha iya sih, cerah banget udaranya juga enak buat ke taman ini, apalagi ditemani lampu taman yang bentuknya keren, syahdu bangetlah pokoknya”, kataku menyahut doi.
haha betul itu, tapi semua ini kurang ajip, bintangnya pada malu-malu ih“ sambung doi sambil tertawa.
eh iya kalo dipikir ya hahaha“ kataku menimpali.
Tau kenapa bintang pada malu? Mungkin karena mereka malu-malu karena kamu yang malam ini sedang cantik banget” kata doi.
Pas sekali malam dingin di taman itu, doi sedang memutar lagu dari payung teduh. Dentuman jantungku bertambah cepat dan tubuh ini membeku untuk beberapa detik. Seketika, doi membuyarkan pandanganku dengan senyuman manisnya sampai terlihat giginya.
heh kok nglamun sih, kek mana sih? katanya. Kata-kata dari mulutnya kuperhatikan saja, tapi tak sepenuhnya kudengar karena kumasih di dalam fantasiku yang dibuat oleh kata manisnya.
eh iya ..iya maaf”, sahutku.
kamu tau ga kata-kata ini, puncak dari cinta antara dua insan adalah ketika mereka merindu mereka tidak saling sms, telpon, ataupun BBM-an  tapi ketika mereka saling bersatu dalam doa kepada yang maha kuasa. Dan malam ini, kuingin membuktikan kata-kata itu. Hei, kamu, kuingin berkata maaf karena malam ini ijinkan kupergi untuk belajar ke negeri seberang, kuingin melihat dunia ini dan juga ini ingin kubagikan kepada pujaanku yaitu kamu,” kata doi.
Kalimat ini membuatku semakin terpaku, inginku berteriak sehebatnya antara sedih dia pergi atau senang ternyata cintanya begitu mendalam padaku, dia buatku terdiam kesekian kalinya.
kuingin, malam indah ini sebagai saksi bahwa kusiap tuk menahan pedihnya kesakitan dari sebuah kerinduan,” kataku sambil terbata-bata . (lagu “kau” dari Fiersa Besari mengiringi pertemuan terakhir kami kali ini).
Sekelebat ingantan ratusan hari yang lalu kubersamanya, terlintas karena suasana malam ini persis mengingatkanku pada sosoknya. Sosok yang sangat kurindukan, yang mungkin jaraknya berjam-jam menempuh perjalanan untuk kemari. Kucoba tuliskan kerinduanku, kutarik secarik kertas kosong sambil kukembalikan ingatan samar-samar pada saat kubersamanya dulu. Tetiba seakan jari-jariku menari diatas kertas putih kosong, kucoba curahkan kesedihan ini.
Dibawah langit ibukota, 16 agustus 2017
Oleh Septia Kurniawati Arifah
Kau
Kau
Seorang dahulu
Dimasa diriku lemah, tak berdaya
Engkau membantuku melangkah
            Aku tidak bisa menggambarkannya
            Hanya warna-warna yang kulihat
            Tak lagi hitam, kelam
            Dan tak lagi sendiri
Aku terjebak dalam dunia khayal
Merasuki pikiranku dengan hipotesa fiktif
Tiada kusadari perlahan ini mengkristal
Menjadi sebuah pengharapan
            Kau tidak akan pernah tahu
            Atau paham akan rasaku
            Karena rasa ini, kupenjarakan dalam jeruji
            Dan kuncinya kubuang ke samudra
Hati tak ingin melupakan pun membebaskan
Namun kurasakan hari demi hari
Hanya menyayat hati sendiri,
Menyimpan cinta…..
Seketika setelah kututurkan jiwaku di atas kertas putih itu, ada seseorang datang yang kurasa tidak asing dalam pandangan mata ini setelah kutatap matanya yang coklat. Ternyata dia menghampiriku yang terpaku duduk di atas kursi taman dimalam yang sama ketika terkahir kumemandangnya.  Diberikannya jaket seaakan menghangatkan sampai ke dalam jiwaku yang  sedang terperanjat dengan keterkejutan bahwa doi dating membawakan kehangatan yang sama seperti dulu. Tak kuasa badan rapuh ini pun jatuh dalam pelukan perasaan antara senang atau sedih.
Malam itu pun ketika sayup suara jangkrik dan katak yang berada di kolam taman ditemani lampu taman kami dua orang kekasih dipertemukan kembali dengan doi membawa segudang cerita yang akan kudengarkan dengan setia. Tapi sebenarnya adalah kuingin memperhatikan senyum wajahnya setiap malam setelah malam itu, dan selau menghiasi mimpiku. Begitulah ceritaku malam ini.
~o~
Story by Leo Arie Wibawa
Poem and edited by Septia Kurniawati Arifah



Bye October

Friday, 31 October 2025.. Morning greets with a warm, bright light Damn I miss you.. when I hear that song again.. Don't wanna remember ...