NB
: lebih cocok dibaca dengan diiringi lagu Adhitia Sofyan dan Fiersa Besari.
Di bawah selimut langit
jakarta, 17 desember 2016
Oleh : Septia
Kurniawati Arifah
Jarak
Ribuan
mil jauhnya
Antara
kau dan ragaku
Tapi
slalu kurasa dekat
Mana
kala kulihat perangko pertanda dirimu
Bunga snowdrop
Pohon-pohon sycamore
Indahnya salju
Semua kau lukiskan untukku
Tapi
kau tak kembali
Dan
rindu merusak hati ini
Akankah
kulihat lagi ,akankah kulihat lagi?
Akankah
kita bertemu kembali ?
Kau buatku tersiksa-lara
Setiap hari mengharapmu
Berharap kau bawakan salju
Dipanas musim kemarau untukku
Janganlah
selalu mewarnai hariku
Dengan
senyuman yang tak dapat kulihat
Jangan
pula bernyanyi untukku
Dengan
suaramu yang tak dapat kudengar
Lantunan irama
musik dari adhitia sofyan yang terdengar merdu seakan membawaku ke dalam angan dari
sepenggal kisah hidup seorang yang telah merasakan kesakitan dari sebuah kerinduan.
Udara dingin malam
di kota Jakarta saat itu begitu menusuk dan sekaan menambahkan kesakitan yang ku
alami dari sebuah kerinduaan pada kekasih hati yang selalu kuharapkan kehadirannya
disisiku dan sekedar membawakan sebuah jaket ataupun memeluk tubuh yang lemah ini.
Dalam malam yang ditemani lagu syahdu, kuberkata pada diri ini, “bagaimana ya kabar doi, lagi ngapainya?” gumamku pada
diri sendiri. Pernah kudengar sebuah kata-kata manis terakhir kali kuberbincang
dengan kekasihku,
“
hei kamu,
coba lihat langit Jakarta kali ini, indah bukan?” kata doi.
“hahaha iya sih, cerah banget udaranya juga enak buat ke taman
ini, apalagi ditemani lampu taman yang bentuknya keren, syahdu bangetlah
pokoknya”, kataku menyahut doi.
“haha betul itu,
tapi semua ini kurang ajip, bintangnya pada malu-malu ih“ sambung doi
sambil tertawa.
“eh iya kalo dipikir ya hahaha“ kataku menimpali.
“Tau kenapa bintang
pada malu? Mungkin karena mereka malu-malu karena kamu yang malam ini sedang cantik
banget” kata doi.
Pas sekali malam
dingin di taman itu, doi sedang memutar lagu dari payung teduh. Dentuman jantungku
bertambah cepat dan tubuh ini membeku untuk beberapa detik. Seketika, doi membuyarkan
pandanganku dengan senyuman manisnya sampai terlihat giginya.
“ heh kok nglamun
sih, kek mana sih?” katanya. Kata-kata dari mulutnya kuperhatikan saja,
tapi tak sepenuhnya kudengar karena kumasih di dalam fantasiku yang dibuat oleh
kata manisnya.
“
eh iya ..iya maaf”, sahutku.
“kamu tau ga
kata-kata ini, puncak dari cinta antara dua insan adalah ketika mereka merindu mereka
tidak saling sms, telpon, ataupun BBM-an tapi ketika mereka saling bersatu dalam doa kepada
yang maha kuasa. Dan malam ini, kuingin membuktikan kata-kata itu. Hei, kamu, kuingin
berkata maaf karena malam ini ijinkan kupergi untuk belajar ke negeri seberang,
kuingin melihat dunia ini dan juga ini ingin kubagikan kepada pujaanku yaitu kamu,”
kata doi.
Kalimat ini membuatku
semakin terpaku, inginku berteriak sehebatnya antara sedih dia pergi atau senang
ternyata cintanya begitu mendalam padaku, dia buatku terdiam kesekian kalinya.
“kuingin, malam indah ini sebagai saksi bahwa kusiap tuk menahan
pedihnya kesakitan dari sebuah kerinduan,” kataku sambil terbata-bata .
(lagu “kau” dari Fiersa Besari mengiringi pertemuan terakhir kami kali ini).
Sekelebat ingantan
ratusan hari yang lalu kubersamanya, terlintas karena suasana malam ini persis mengingatkanku
pada sosoknya. Sosok yang sangat kurindukan, yang mungkin jaraknya berjam-jam
menempuh perjalanan untuk kemari. Kucoba tuliskan kerinduanku, kutarik secarik kertas
kosong sambil kukembalikan ingatan samar-samar pada saat kubersamanya dulu. Tetiba
seakan jari-jariku menari diatas kertas putih kosong, kucoba curahkan kesedihan
ini.
Dibawah
langit ibukota, 16 agustus 2017
Oleh
Septia Kurniawati Arifah
Kau
Kau
Seorang
dahulu
Dimasa
diriku lemah, tak berdaya
Engkau
membantuku melangkah
Aku tidak bisa menggambarkannya
Hanya warna-warna yang kulihat
Tak lagi hitam, kelam
Dan tak lagi sendiri
Aku
terjebak dalam dunia khayal
Merasuki
pikiranku dengan hipotesa fiktif
Tiada
kusadari perlahan ini mengkristal
Menjadi
sebuah pengharapan
Kau tidak akan pernah tahu
Atau paham akan rasaku
Karena rasa ini, kupenjarakan dalam jeruji
Dan kuncinya kubuang ke samudra
Hati
tak ingin melupakan pun membebaskan
Namun
kurasakan hari demi hari
Hanya
menyayat hati sendiri,
Menyimpan
cinta…..
Seketika setelah
kututurkan jiwaku di atas kertas putih itu, ada seseorang datang yang kurasa tidak
asing dalam pandangan mata ini setelah kutatap matanya yang coklat. Ternyata dia
menghampiriku yang terpaku duduk di atas kursi taman dimalam yang sama ketika terkahir
kumemandangnya. Diberikannya jaket seaakan
menghangatkan sampai ke dalam jiwaku yang sedang terperanjat dengan keterkejutan bahwa doi
dating membawakan kehangatan yang sama seperti dulu. Tak kuasa badan rapuh ini pun
jatuh dalam pelukan perasaan antara senang atau sedih.
Malam itu pun
ketika sayup suara jangkrik dan katak yang berada di kolam taman ditemani lampu
taman kami dua orang kekasih dipertemukan kembali dengan doi membawa segudang cerita
yang akan kudengarkan dengan setia. Tapi sebenarnya adalah kuingin memperhatikan
senyum wajahnya setiap malam setelah malam itu, dan selau menghiasi mimpiku. Begitulah
ceritaku malam ini.
~o~
Story
by Leo Arie Wibawa
Poem
and edited by Septia Kurniawati Arifah